Rukun Iman · Ketiga dari Enam

Iman Kepada Kitab-Kitab

Manual kehidupan dan cahaya penuntun di tengah kegelapan dunia

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا آمِنُوا بِاللَّهِ وَرَسُولِهِ وَالْكِتَابِ الَّذِي نَزَّلَ عَلَىٰ رَسُولِهِ وَالْكِتَابِ الَّذِي أَنْزَلَ مِنْ قَبْلُ

Yā ayyuhallażīna āmanū āminū billāhi wa rasūlihī wal-kitābillażī nazzala 'alā rasūlihī wal-kitābillażī anzala min qablu.

"Wahai orang-orang yang beriman, tetaplah beriman kepada Allah dan Rasul-Nya dan kepada kitab yang Allah turunkan kepada Rasul-Nya serta kitab yang Allah turunkan sebelumnya."
(QS. An-Nisa: 136)

Bayangkan Anda membeli sebuah mesin berteknologi tinggi yang sangat rumit. Mustahil sang pabrikan menyerahkan mesin tersebut tanpa menyertakan "buku panduan" (manual) pengoperasiannya. Manusia jauh lebih kompleks daripada mesin apa pun, dan bumi adalah arena ujian yang penuh dengan jebakan. Oleh karena itu, kasih sayang Allah mengharuskan diturunkannya Kitab-Kitab Suci sebagai kompas penunjuk arah dan manual kehidupan.

Urgensi Turunnya Wahyu: Keterbatasan Akal Manusia

Sebagian pemikir berpendapat bahwa akal manusia sudah cukup untuk membedakan yang baik dan yang buruk. Pendapat ini terbukti keliru sepanjang sejarah peradaban. Akal manusia itu relatif, dipengaruhi oleh tradisi, hawa nafsu, dan batasan ruang waktu. Apa yang dianggap "baik" oleh suatu masyarakat di zaman tertentu, bisa dianggap "buruk" atau bahkan biadab di zaman lainnya.

Akal mampu merumuskan cara membangun pesawat terbang atau menyembuhkan penyakit, namun akal angkat tangan ketika ditanya: "Dari mana kita berasal? Mengapa kita ada di sini? Dan ke mana kita akan pergi setelah mati?". Di sinilah wahyu hadir. Kitab-kitab suci diturunkan untuk memberikan standar kebenaran absolut yang tidak lekang oleh waktu, serta membimbing manusia menuju keselamatan di dimensi yang tidak bisa dijangkau oleh mikroskop dan teleskop: alam akhirat.

Mengenal Kitab-Kitab Utama dan Suhuf

Mengimani kitab-kitab Allah berarti meyakini secara pasti bahwa Allah ﷻ telah menurunkan kitab-kitab kepada para nabi dan rasul-Nya yang berisi firman-Nya (Kalamullah). Wahyu tersebut berisi cahaya, petunjuk, syariat, serta peringatan. Di antara banyak wahyu yang diturunkan, umat Islam wajib mengimani secara spesifik keberadaan empat kitab besar beserta suhuf (lembaran-lembaran wahyu):

  1. 1. Taurat (Diturunkan kepada Nabi Musa AS)

    Kitab suci paling agung bagi Bani Israil. Diturunkan di Bukit Sinai dalam bahasa Ibrani. Taurat asli berisi tauhid, hukum-hukum syariat yang tegas, serta kabar gembira tentang akan datangnya Nabi akhir zaman. (QS. Al-Ma'idah: 44)

  2. 2. Zabur (Diturunkan kepada Nabi Daud AS)

    Diturunkan dalam bahasa Qibthi. Berbeda dengan Taurat yang sarat akan hukum halal-haram, Zabur lebih difokuskan pada puji-pujian kepada Allah, dzikir, doa, dan hikmah (mazmur) untuk melembutkan hati Bani Israil. (QS. Al-Isra: 55)

  3. 3. Injil (Diturunkan kepada Nabi Isa AS)

    Diturunkan dalam bahasa Suryani. Kitab ini membenarkan ajaran asli Taurat, menghapus sebagian hukum Taurat yang dirasa terlalu berat sebagai bentuk kasih sayang, serta kembali mengingatkan tentang kedatangan Nabi penutup setelah Nabi Isa. (QS. Al-Ma'idah: 46)

  4. 4. Al-Qur'an (Diturunkan kepada Nabi Muhammad ﷺ)

    Wahyu penutup dan penyempurna yang diturunkan secara berangsur-angsur selama kurang lebih 23 tahun dalam bahasa Arab. Merupakan mukjizat terbesar yang keasliannya dijaga langsung oleh Allah hingga hari kiamat.

Selain keempat kitab tersebut, kita juga wajib mengimani adanya Suhuf Ibrahim dan Suhuf Musa, yakni lembaran-lembaran wahyu yang memuat wejangan, perumpamaan, dan pelajaran hidup bagi umat di masa lampau (QS. Al-A'la: 18-19).

Sikap Terhadap Kitab Sebelum Al-Qur'an

Penting untuk dipahami bahwa keimanan seorang Muslim terhadap Taurat, Zabur, dan Injil adalah keimanan terhadap wujud asli dari kitab-kitab tersebut ketika pertama kali diturunkan. Umat Islam meyakini bahwa seiring berjalannya ribuan tahun, campur tangan manusia (distorsi, penambahan, penghapusan, dan salah terjemah) telah mencemari keaslian kitab-kitab terdahulu.

Maka, jika ada informasi dalam kitab-kitab masa kini yang sejalan dengan Al-Qur'an, kita membenarkannya. Jika bertentangan (seperti menganggap Allah punya anak atau nabi berbuat dosa besar), kita mendustakan bagian tersebut. Jika tidak ada konfirmasinya dalam Islam, kita tawaqquf (bersikap netral, tidak membenarkan dan tidak mendustakan).

Al-Qur'an Sebagai *Muhaimin* (Hakim dan Penjaga)

Ketika Al-Qur'an diturunkan, ia bertindak sebagai Muhaimin, yakni batu ujian, penyempurna, dan saksi kebenaran atas kitab-kitab sebelumnya. Al-Qur'an juga bersifat Nasikh (menghapus) syariat umat-umat terdahulu yang tidak relevan lagi untuk diterapkan secara universal.

Keistimewaan mutlak Al-Qur'an dibandingkan kitab lain adalah garansi pemeliharaan langsung dari Allah ﷻ: "Sesungguhnya Kamilah yang menurunkan Al-Qur'an, dan pasti Kami (pula) yang memeliharanya." (QS. Al-Hijr: 9). Jutaan penghafal Al-Qur'an (Hafidz) dari berbagai belahan dunia dan ragam bahasa, dari anak usia 5 tahun hingga kakek renta, menjadi bukti nyata bagaimana Allah menjaga tiap huruf dan harakat kitab ini dari pemalsuan.

"Dunia ini adalah lautan yang gelap dan dalam. Tanpa Al-Qur'an sebagai mercusuar, seorang manusia tidak akan pernah tahu apakah perahunya sedang berlayar menuju pelabuhan surga atau sedang menuju karang kebinasaan."

Hak-Hak Al-Qur'an yang Wajib Ditunaikan

Mengimani Al-Qur'an tidak sekadar mencium sampulnya lalu menyimpannya di rak tertinggi agar tidak berdebu. Keimanan ini menuntut kita untuk menunaikan hak-hak Al-Qur'an dalam kehidupan sehari-hari melalui lima tingkatan interaksi:

Keimanan kepada Kitab-Kitab Allah pada akhirnya adalah keimanan pada kasih sayang Allah yang menolak membiarkan hamba-Nya tersesat. Ia adalah kepastian di tengah keraguan duniawi, pelita di kala gelap gulita, dan tali Allah yang sangat kuat; barangsiapa berpegang teguh padanya, ia tidak akan pernah celaka, baik di dunia maupun di akhirat.